Daftar Segera!!! -- Untuk kemudahan Transaksi Online Anda

Senin, 05 Desember 2011

Refleksi dan Tindak Lanjut dalam Penelitian Tindakan Kelas

PENGERTIAN
Refleksi merupakan kegiatan telaah terhadap tujuan PTK, hasil analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pelaksanaan rencana tindakan, untuk menetapkan atau mengevaluasi ketercapaian tujuan perbaikan pembelajaran.

Hasil refleksi dituangkan kedalam narasi ilmiah, yang akan menjadi bagian dari sisi laporan PTK.

Tindak lanjut merupakan kegiatan selanjutnya yang harus dilakukan guru peserta setelah memperoleh simpulan dari interpretasi data dan refleksi.

  • Apabila hasil refleksi menunjukkan bahwa tujuan perbaikan pembelajaran belum berhasil seperti yang diharapkan, kegiatan perbaikan tindakan dilanjutkan pada siklus berikutnya. Untuk menentukan tindak lanjut yang tepat, guru peserta perlu mencari faktor-faktor yang diduga kuat sebagai penyebab kekurang-berhasilan perbaikan pembelajaran. Penyebab inilah yang harus digunakan sebagai dasar untuk merumuskan rencana tindakan pada siklus berikutnya.
  • Apabila hasil interpretasi dan refleksi diperoleh simpulan bahwa tindakan yang dilakukan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, guru peserta dapat melanjutkan ke siklus berikutnya untuk lebih mengoptimalkan hasil perbaikan, atau mengakhiri PTK dan menyusun laporan.

Rencana tindak lanjut untuk siklus berikutnya dituangkan dalam skenario pembelajaran dalam bentuk RPP dengan berbagai perangkatnya.


LANGKAH MELAKUKAN REFLEKSI DAN TINDAK LANJUT

Langkah-langkah melakukan refleksi:
1.  Cermati tujuan dalam PTK dalam upaya memperbaiki pembelajaran yang diinginkan.
2.  Cari penyebab keberhasilan atau kekurang-berhasilan dari analisis dan interpretasi.
3.  Cermati uraian pada deskripsi temuan
4.  Buat ringkasan naratif dari hasil refleksi tersebut tersebut.

Langkah-langkah menentukan tindak lanjut untuk siklus berikutnya:
Berdasarkan hasil refleksi rumuskan tindak lanjut yang harus dilakukan untuk memperbaiki atau meningkat kualitas pembelajaran. Langkah tindak lanjut meliputi:
1. memilih atau menetapkan topik pembelajaran berikutnya,
2. menetapkan strategi pembelajaran yang sesuai,
3. menyusun skenario pembelajaran (RPP),
4. penyusun perangkat pembelajaran yang diperlukan,
5. menyusun atau memperbaiki instrumen untuk pengambilan data,
6. menetapkan jadwal pelaksanaan tindakan,
7. jika diperlukan dapat dilakukan simulasi atau ujicoba skenario dan perangkat.

 Tabel : Contoh Hasil Deskripsi Temuan
Tujuan Perbaikan
Deskripsi Temuan
Refleksi
Tindak lanjut
Meningkatkan keaktifan siswa melalui kerja kelompok.
Kerja kelompok berlangsung lancar, namun hanya tiga dari lima kelompok yang anggotanya aktif bertanya dan berpendapat. Untuk dua kelompok yang lain, hanya ketua kelompok dan sekretaris yang aktif bekerja, sedangkan anggota yang lain asyik ngobrol. Ini mungkin terjadi karena guru belum menerapkan strategi untuk mengaktifkan semua anggota kelompok.
(diisi oleh peserta untuk latihan)
(diisi oleh peserta untuk latihan)




Setelah mencoba membuat refleksi dan rencana tindak lanjut seperti tersebut, guru pemandu meminta setiap guru peserta membandingkan hasil yang telah dibuat dengan contoh rumusan berikut ini.
Tabel : Contoh Deskripsi Temuan, Hasil Refleksi, dan Rencana Tindak Lanjut
Tujuan Perbaikan
Deskripsi Temuan
Refleksi
Tindak Lanjut
Meningkatkan keaktifan siswa melalui kerja kelompok.

Kerja kelompok berlangsung lancar, namun hanya tiga dari lima kelompok yang anggotanya aktif bertanya dan berpendapat. Untuk dua kelompok yang lain, hanya ketua kelompok dan sekretaris yang aktif bekerja, sedangkan anggota yang lain asyik ngobrol. Ini mungkin terjadi karena guru belum menerapkan strategi untuk mengaktifkan semua anggota kelompok
Kerja kelompok belum mampu mengaktifkan siswa, hanya sekitar 60% siswa yang aktif. Penyebabnya adalah guru peserta belum menerapkan strategi untuk mengaktifkan semua siswa.
Pada siklus ke dua guru peserta memutuskan untuk meningkatkan efektifikas kerja kelompok melalui penerapan strategi kerja kelompok ”kolaboratif”. Dalam teknik kolaboratif siswa yang tidak mampu dipacu oleh guru agar mau bertanya kepada temannya, sedangkan siswa yang mampu diminta untuk dapat membantu atau menjelaskan pada temannya yang belum paham

Analisis dan Interpretasi Data Dalam Penelitian Tindakan Kelas

JENIS DATA PTK
Data dalam PTK adalah segala bentuk informasi yang terkait dengan kondisi,  proses, dan keterlaksanaan pembelajaran, serta hasil belajar yang diperoleh siswa.
Analisis data dalam PTK adalah suatu kegiatan mencermati atau menelaah, menguraikan dan mengkaitkan setiap informasi yang terkait dengan kondisi awal, proses belajar dan hasil pembelajaran untuk memperoleh simpulan tentang keberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran
Data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.

DATA KUANTITATIF:
§  Data kuantitatif merupakan data yang berupa angka atau bilangan, baik yang diperoleh dari hasil pengukuran maupun diperoleh dengan cara mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif.
§  Contoh data kuantitatif: skor tes awal Tina untuk mata pelajaran matematika= 65, berat badan Tini 47 kg, panjang meja tulis 150 cm.

DATA KUALITATIF:
§  Data kualitatif merupakan data yang berupa kalimat-kalimat, atau data yang dikategorikan berdasarkan kualitas objek yang diteliti, misalnya: baik, buruk, pandai, dan sebagainya.
§  Contoh data kualitatif: siswa berdiskusi secara aktif, perhatian siswa terhadap matapelajaran IPS rendah, dan rata-rata skor UAS semester ini naik.

TEKNIK ANALISIS DATA KUALITATIF
1) Ada berbagai teknik analisis data, seperti teknik analisis data kualitatif dengan model interaktif. Analisis interaktif terdiri dari tiga tiga komponen, yakni: reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam analisis data seperti ini adalah sebagai berikut.
a) Memilih data (reduksi data)
Pada langkah pemilihan data ini, pilihlah data yang relevan dengan tujuan perbaikan pembelajaran. Data yang tidak relevan dapat dibuang, dan jika dianggap perlu, guru peserta dapat menambahkan data baru dengan mengingat kembali peristiwa atau fenomena yang terjadi selama pelaksanaan rencana tindakan.
b) Mendeskripsikan data hasil temuan (memaparkan data)
Pada kegiatan ini, guru peserta membuat deskripsi dari langkah yang yang dilakukan pada kegiatan a) tersebut.
c)  Menarik kesimpulan hasil deskripsi
Berdasarkan deskripsi yang telah dibuat pada langkah b) tersebut, selajutnya dapat ditarik kesimpulan hasil pelaksanaan rencana tindakan yang telah dilakukan.
2) Analisis dan interpretasi data juga dapat dilakukan dengan mencari ”pattern” atau pola (Guba dan Lincoln, 1981). Analisis dan interpretasi data juga dapat dilakukan dengan cara mencari pola atau esensi dari hasil refleksi diri yang dilakukan guru kemudian, digabung dengan data yang diperoleh dari beberapa pengamat yang membantu. 

TEKNIK ANALISIS DATA KUANTITATIF
·        Data kuantitif dalam PTK  umumnya berupa angka-angka sederhana, seperti nilai tes hasil belajar, disktribusi frekuensi, persentase, skor dari hasil angket, dst.
·        Data kuantitatif dapat dianalisis secara deskriptif, antara lain dengan cara:
-         Menghitung jumlah,
-         Menghitung rata-rata (rerata),
-         Menghitung nilai persentase,
-         Membuat grafik,
-         Dsb.

·        Jika diperlukan data kuantitatif dapat dianalisis secara statistik, misalnya:
-         Mengitung nilai beda terkecil,
-         Mnghitung nilai korelasi antar variabel,
-         Dsb.

Pada kegiatan belajar ini hanya akan dipelajari teknik analisis data kuantitatif secara deskriptif.
Contoh: skor hasil tes akhir semester matematika 40 siswa:
65   72   67   82   72   91   67   73   71   70
85   87   68   86   83   90   74   89   75   61
65   76   71   65   91   79   75   69   66   85
95   74   73   68   86   90   70   71   88   68

·        Agar mudah dibaca maka data tersebut perlu ditata, misalnya disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Caranya adalah sebagai berikut.
1)    Tentukan rentang skor yaitu skor tertinggi dikurangi skor terendah. Jadi rentang skor = 95 – 61 = 34.
2)    Tentukan banyak kelas yang akan digunakan. Untuk menghitung banyak kelas. Gunakan aturan Sturges dengan rumus:
Banyak kelas (k) = 1 + 3,3 log n, dimana k adalah banyak kelas yang akan dibuat dan n adalah banyak data.

Untuk data tersebut, maka banyak kelas yang akan dibuat adalah:
k = 1 + 3,3 log 40
   = 1 + 3,3 x 1,6021
   = 6,2869
Banyak kelas yang harus dibuat dapat 6 atau 7.
3)    Hitung panjang kelas interval dengan rumus:

                                 rentang
Panjang kelas (p) = -----------------
                             banyak kelas
                  34
          p = --------  = 4,86 , dibulatkan jadi 5
                   7
4)  Tentukan data untuk ujung bawah kelas interval pertama. Data untuk ujung bawah kelas interval pertama dapat diambil dari skor terkecil dari data yang diperoleh atau  dapat diambil dari skor yang lebih kecil dari skor terkecil dengan syarat bahwa skor terbesar harus masuk dalam kelas interval terakhir yang akan dibuat.
5)    Masukkan semua skor ke dalam kelas interval yang terbentuk.
6) Hasil tabel frekuensi distribusi data hasil tes matematika tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel Contoh Destribusi Hasil Tes Akhir Semester Matematika SD Teladan Medan Tahun 2008

Skor matematika
Tally
Banyak siswa
61 – 65
66 – 70
71 – 75
76 – 80
81 – 85
86 – 90
91 - 95
////
///// ////
///// ///// /
//
////
///// //
///
4
9
11
2
4
7
3
Jumlah

40


Jika menghendaki, dapat menggambar data dalam tabel tersebut ke dalam bentuk diagram batang. Caranya, dibuat dulu dua sumbu, yaitu sumbu datar dan sumbu tegak. Sumbu datar memuat bilangan-bilangan yang merupakan titik tengah dari setiap kelas interval, sedangkan sumbu tegaknya memuat frekuensi dari setiap kelas interval. 
Analisis data kuantitatif dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan analisis deskriptif. Analisis deskriptif dapat dilakukan dengan memanfaatkan statistika sederhana seperti menghitung rata-rata (mean) dan menghitung persentase. Menghitung skor rata-rata dapat dengan mudah dilakukan yaitu dengan cara menjumlahkan semua data kemudian dibagi dengan banyaknya data.



Dengan menggunakan cara tersebut maka:


Skor rata-rata tes akhir semester matematika =

     65 + 72 + 67 + .... + 68
 ------------------------------- = 76,25
               40


Jika data sudah berbentuk tabel frekuensi distribusi seperti pada tabel 5.4 maka dapat menghitung nilai rata-ratanya dengan terlebih dulu mencari nilai tengah untuk setiap kelas interval. Kemudian kalikan setiap nilai tengah dengan frekuensi di kelas interval masing-masing. Jumlahkan perkalian antara nilai tengah dengan frekuensi untuk setiap kelas interval kemudian dibagi dengan jumlah data.
Untuk mempermudah hitungan maka data pada Tabel 5.4 tersebut dapat diubah seperti berikut ini.


Tabel:  Rentang sekor, Nilai Tengah, dan Frekuensi Hasil Tes Matematika SD Teladan Medan Tahun 2008

Skor matematika
Nilai Tengah
Banyak siswa
61 – 65
66 – 70
71 – 75
76 – 80
81 – 85
86 – 90
91 - 95
63
68
73
78
83
88
93
4
9
11
2
4
7
3
Jumlah

40

                              4x63 + 9x68 + 11x73 + 2x78 + 4x83 + 7x88 + 3x93
     Nilai rata-ratanya =  ------------------------------------------------------
                                                    40


                          252 + 612 + 803 + 156 + 332 + 616 + 279
                      = -------------------------------------------
                                         40


                      = 76,25

Dengan menyajikan data kuantitatif dalam bentuk tabel atau grafik, dapat dengan mudah mendeskripsikan data yang diperoleh. Misal, dari data pada tabel 5.4, dapat dengan mudah menghitung persentase siswa yang memperoleh skor antara 71 – 77 yaitu


         11
     = ----- x 100 % = 27,5 %.
         40

INTERPRETASI DATA
·        Interpretasi data merupakan suatu kegiatan yang menggabungkan hasil analisis dengan pernyataan, kriteria, atau  standar tertentu untuk menemukan makna dari data yang dikumpulkan untuk menjawab permasalahan pembelajaran yang sedang diperbaiki.
·        Interpretasi data perlu dilakukan peneliti untuk memberikan arti mengenai bagaimana tindakan yang dilakukan mempengaruhi peserta didik.
·        Interpretasi data juga penting untuk menantang guru agar mengecek kebenaran asumsi atau keyakinan yang dimilikinya.
·        Ada berbagai teknik dalam melakukan interpretasi data, antara lain dengan:
1)    menghubungkan data dengan pengalaman diri guru atau peneliti,
2)    mengaitkan temuan (data) dengan hasil kajian pustaka atau teori terkait,
3)  memperluas analisis dengan mengajukan pertayaan mengenai penelitian dan implikasi hasil penelitian, dan/atau
4)   meminta nasihat teman sejawat jika mengalami kesulitan.

·        Berdasarkan hasil contoh analisis data kuantitatif tersebut maka dapat dibuat interpretasi sebagai berikut.
1)   Jika guru menetapkan ketuntasan belajar   ≥ 71% maka jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 27 orang atau 68% siswa. Sebaliknya 32% siswa tidak tuntas belajar.
2)   Jika dilihat dari nilai rata-rata kelas (76,25), maka nilai siswa secara klasikal tersebut ketuntasan belajar.
3)   Dst.

Minggu, 04 Desember 2011

Pelaksanaan Tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas



Pelaksanaan Tindakan merupakan realisasi dari rencana tindakan yang sudah dibuat. Pelaksanaan Tindakan dilakukan oleh guru model dalam situasi “terbuka” atau diamati oleh pihak lain atau dikenal dengan istilah open class.

APA ITU OPEN CLASS DAN GURU MODEL?
  • Open class adalah kegiatan melaksanakan pembelajaran untuk diamati oleh para observer (guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dosen, widyaiswara, pimpinan dinas pendidikan, maupun masyarakat umum), yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan diskusi refleksi. Istilah open class biasa digunakan dalam kegiatan Lesson Study, dan dapat dikatakan sebagai kegiatan inti dari Lesson Study.
  • Guru model: adalah guru peserta yang mendapat kesempatan untuk melaksanakan pembelajaran di sekolahnya dan diobservasi oleh peserta yang lain.


LEMBAR OBSERVASI PEMBELAJARAN
  
Mata Pelajaran/Topik:
                                /
Kelas/Sekolah:
                                /
Nama Pengajar:


TAHAP/
ASPEK
INDIKATOR
HASIL OBSERVASI
KEGIATAN AWAL
Apersepsi dan motivasi



1. Apa yang dilakukan guru peserta untuk menggali pengetahuan awal atau memotivasi siswa?


2. Bagaimana respons siswa? Apakah siswa bertanya tentang sesuatu masalah terkait dengan apa yang disajikan guru peserta pada kegiatan awal?










KEGIATAN INTI

Materi ajar:

3. Apakah guru peserta memberikan penjelasan umum tentang materi ajar atau prosedur kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa?


4. Bagaimana keterkaitan antara pembelajaran dengan realita kehidupan, lingkungan dan pengetahuan lainnya?








Pengelolaan sumber belajar/media
5. Apakah guru peserta terampil dalam memanfaatkan dan mampu memanipulasi media pembelajaran?

6. Bagaimana interaksi siswa dengan  sumber belajar/media?






Strategi pembelajaran
7. Apakah proses pembelajaran dilaksanakan dengan strategi yang sesuai secara lancar?

8. Apakah siswa dapat mengikuti alur kegiatan belajar?






9. Bagaimana cara guru peserta memberikan arahan yang mendorong siswa untuk bertanya, berpikir dan beraktivitas?

10. Apakah siswa aktif melakukan kegiatan fisik dan mental (berpikir)? Berapa banyak siswa yang aktif belajar?

KEGIATAN PENUTUP

Penguatan/
konsulidasi
11. Bagaimana cara guru peserta memberikan penguatan, dengan mereviu, merangkum atau menyimpulkan?

12. Apakah guru peserta memberi tugas rumah untuk remidi atau penguatan?


Evaluasi
13. Bagaimana cara guru peserta melakukan evaluasi pembelajaran?

14. Bagaimana ketuntasan belajar siswa?


KOMENTAR OBSERVER
Keterlaksanaan skenario pembelajaran (berdasarkan RPP):

Pelajaran berharga yang dapat dipetik oleh observer:

Lain-lain:


                                                    
……………………, ……………………. 20
Observer,


(…………………………………………….)
Jabatan/Posisi:



Panduan Pelaksanaan Observasi:

RASIONAL
Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam upaya peningkatan profesionalisme guru melalui Program BERMUTU adalah latihan melaksanakan tahapan PTK Penelitian Tindakan Kelas dengan memanfaatkan pendekatan atau teknik-teknik Lesson Study dan Case Study.  Teknik Lesson Study yang dimaksud adalah melaksanakan penyusunan rencana pembelajaran secara kolaboratif di KKG/MGMP, kemudian melaksanakan open class yang diobservasi oleh para guru peserta KKG/MGMP, dan dilanjutkan dengan diskusi refleksi bersama.  Open class yang diadopsi dari Lesson Study tersebut dilakukan secara modeling.  Walapun bersifat modeling, harapannya open class akan sering dilakukan oleh guru peserta, baik dalam konteks kegiatan KKG/MGMP atau pun dalam upaya pengembangan guru di sekolah melalui Lesson Study (Lesson Study Berbasis Sekolah/LSBS).
Agar para guru pemandu dan para anggota MGMP dapat melakukan kegiatan open class, observasi pembelajaran dengan baik (tidak mengganggu proses belajar mengajar), serta dapat melakukan diskusi refleksi secara efisien maka perlu diberikan rambu-rambu sebagai berikut.

SEBELUM PELAKSANAAN OPEN CLASS DAN OBSERVASI PEMBELAJARAN
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum kegiatan observasi pembelajaran dimulai.
  1. Jumlah observer dalam kegiatan open class pada dasarnya tidak dibatasi, namur harus tetap disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia. Dengan jumlah siswa sekitar 40 orang yang menggunakan ruang kelas biasa di Indonesia, mungkin masih  bisa menampung observer sebanyak 15-20 orang.
  2. Meja belajar siswa hendaknya diatur terlebih dulu agar ada ruang yang cukup untuk mobilitas observer di sisi kiri, kanan, atau belakang kelas, serta untuk mobilitas guru pengajar.
  3. Pengamat hendaknya datang atau masuk kelas sebelum pembelajaran dimulai, karena pengamat harus menempatkan diri pada posisi yang paling mungkin untuk mengamati semua siswa.
  4. Kedatangan tamu atau guru peserta di sekolah hendaknya tidak mengganggu konsentrasi belajar siswa di kelas yang lain. Oleh karena itu, tamu hendaknya tenang dan tidak berbicara keras yang dapat menimbulkan keributan di sekolah.
  5. Siapkan lembar observasi atau buku catatan dan pena sebelum pengamatan. Jika memungkinkan setiap observer memperoleh RPP, LKS atau perangkat pembelajaran lainnya, serta denah tempat duduk siswa (Contoh Terlampir).
  6. Jika Anda membawa HP, setel ke profile silent (bisu) atau getar supaya nada panggil tidak berbunyi. Perlu dihindari mengirim atau menerima telepon kecuali untuk hal-hal terpaksa, dan sebaiknya Anda keluar dulu dari raung kelas.
  7. Usahakan untuk tidak merokok atau makanan dan minum di dalam ruangan/kelas selama proses pengamatan. 
  8. Pastikan agar pada waktu pengamatan nanti tidak terganggu perasaan ingin buang hajat. Jika diperlukan, silahkan buang air kecil/besar sebelum  pembelajaran dimulai.
  9. Berikut daftar check list untuk mengontrol kesiapan open class:


No
Persiapan
Ada
Tidak
Keterangan
1.
Kesiapan kelas dan pengaturannya



2.
RPP dan Perangkat Pembelajaran (LKS)



3.
Media dan peralatan pembelajaran yang diperlukan



4.
Lembar observasi



5.
Instrumen untuk pengambilan data (terkait dengan PTK)



6.
Denah tempat duduk siswa



7.
Alat perekam (kamera) jika ada



8.
Alat tulis/buku catatan dari setiap observer









RAMBU-RAMBU PADA SAAT OBSERVASI PEMBELAJARAN  
Tujuan observasi pembelajaran adalah untuk memperoleh informasi, data, dan rekaman hal-hal penting dalam pembelajaran yang dapat dijadikan bahan untuk menemukan masalah PTK. Selain itu hasil observasi merupakan data bagi guru model/pengajar untuk dianalisis dan dijadikan bahan refleksi untuk mengevaluasi keberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran.  Berikut rambu-rambu observasi yang disarankan untuk dipatuhi. 
  1. Setelah memasuki ruangan kelas dengan tertib, semua observer hendaknya tidak lagi keluar masuk kelas, dan bersiap mengamati pembelajaran dengan menempatkan diri pada posisi yang paling tepat untuk mengamati siswa. Posisi yang tepat adalah di depan atau di samping siswa, sehingga observer dapat memperhatikan gerak-gerik dan raut wajah siswa ketika belajar.
  2. Observer dapat berpindah posisi pengamatan jika perlu, misalnya mendekat ke siswa dalam kelompok, namun jangan sampai mengalihkan perhatian siswa dari belajar atau menghalangi pandangan siswa.
  3. Pada awalnya, disarankan agar setiap pengamat berlatih mengamati satu kelompok atau beberapa siswa saja. Namun jika sudah merasa lebih mahir, observer dapat mengamati beberapa kelompok lain atau mengamati siswa dalam kelas secara keseluruhan.
  4. Selain mengamati aktivitas belajar siswa, observer juga harus memperhatikan langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan oleh guru secara proporsional. Jika pandangan semua pengamat mengarah pada guru, maka dapat menimbulkan perasaan kurang nyaman atau “grogi” pada guru model.
  5. Tidak membantu guru peserta dalam proses pembelajaran dalam bentuk apapun. Misalnya ikut membagikan LKS, menenangkan siswa, dan lain-lain. Biarlah guru melakukan tugasnya secara mandiri dan terbebas dari intervensi siapapun. Observer bukan bagian dari ”team teaching”.
  6. Tidak membantu siswa dalam proses pembelajaran, misalnya mengarahkan pekerjaan siswa atau bertanya sesuatu kepada siswa yang sedang belajar. Jika siswa bertanya kepada Anda (sebagai pengamat), katakan agar siswa bertanya langsung pada guru.
  7. Tidak mengganggu pandangan guru/siswa selama pembelajaran. Jika Anda sedang mendekati siswa dalam kelompok atau berada di tengah-tengah kelas, kemudian tiba-tiba guru ingin memberikan arahan secara klasikal maka segeralah menepi agar tidak mengganggu pandangan siswa.
  8. Tidak mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar, misalnya berbicara dengan pengamat  lain, keluar masuk ruangan, dll.
  9. Jika menggunakan kamera untuk mengambil gambar kegiatan belajar (guru/siswa) lampu kilat (flash) hendaknya dimatikan. Kilatan lampu kamera dapat mengganggu atau menghentikan konsentrasi belajar siswa.
  10. Gunakan lembar pengamatan yang tersedia untuk mencatat hasil pengamatan Anda. Jika fenomena yang diamati tidak tercantum dalam bagian lembar observasi, pengamat dapat menambahkannya sebagai catatan tambahan.
  11. Pengamat harus melakukan pengamatan secara penuh sejak awal sampai akhir pembelajaran.
  12. Selain mengamati aktivitas siswa dalam belajar,  pengamat juga perlu memperhatikan:

  • Teknik pengelolaan kelas yang dibuat oleh guru peserta.
  • Bagaimana guru peserta mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran?
  • Bagaimana guru peserta memanfaatkan media pembelajaran sederhana dari lingkungan?
  • Bagaimana upaya guru peserta membuat siswa lebih aktif dan kreatif?
  • Bagaiman guru peserta memberikan penguatan terhadap pemahaman yang diperoleh siswa?

Keterangan:  Posisi pengamat ketika proses pembelajaran berlangsung. Para pengamat berada di sisi siswa agar dapat mendengar dan melihat siswa secara langsung (Dok. Ibrohim (2008) dan Istamar S, 2007).

DISKUSI-REFLEKSI
Diskusi refleksi dimaksudkan untuk membahas, mengklarifikasi, mencari alterantif solusi terhadap berbagai temuan pengamatan dalam pelasanaan pembelajaran. Hal ini tentunya sangat berguna untuk menemukan masalah pembelajaran, serta memverifikasi dan melengkapi data hasil pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran dalam konteks pelaksanaan PTK.
Pada dasarnya forum refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi formal, artinya ada yang bertindak sebagai moderator yang mengatur jalannya diskusi, dan kalau perlu juga notulis.